who you gonna call???....CALL CENTRE hahahaha....
Malem itu abis abisan di demo ma seorang temen YM an yang dari tadi sibuk nge judge gw , atau lebih tepatnya perusahaan tempat gw nyari duit sekarang ini...isinya keluh kesah Dia yang, kayaknya sebel setengah mati ama layanan customer service perusahaan tempat gw gawe itu. Padahal dah abis 15 menit gw sibuk ngejelasin ke dia bahwasanya gw bukan bagian yg ngurusin call centre for god sake!!! ...tapi yah gimana lagi , maklum juga secara sadar atau nggak label perusahaan itu mulai menempel juga jadi bagian dari idup gw..hufff...
Sebenenernya bukannya gw nggak mau mnegakui, gw cukup ber empati kok ama diia, jawaban2 penuh simpati juga dah gw keluarin, karena ya gimana , gw sendiri emang sebisa mungkin berusaha UNTUK TIDAK menghabiskan waktu dengan urusan call centre...dari pada ke call centre gw lebih milih nelepon temen atau kolega yang emang kerja diperusahaan dimana sebenernya, pelayanan yang gw butuhin harusnya datang dari call centre... untung nya gw masih beruntung punya banya teman dan para kolega itu (Thx Don Bugs hahaha). karena emang mau ga mau sangat gw akui berbicara dengan customer service memang bisa menguras emosi yah semacam lagi ngomong ama pacar yang selingkuh... isinya ngeles,ga mau di salahin.
Pada pemikiran yang lebih luas, gw yakin Siapapun yang tinggal di Indonesia dan pernah menikmati jasa layanan Call centre apapun juga di Indonesia, dan terus tidak pernah kepingin punya kekuatan transfer energi untuk melesat melintasi jaringan telepon dan keluar dari gagang telepon mbak/mas call center lalu menggetok kepalanya dengan gagang telepon tersebut boleh menyebut dirinya beruntung!.
Dengan karakteristik nyata dari call centre made in Indonesia yang ber typical, jawaban yang tidak menjawab, pelayanan yang setengah-setengah, serta penuh prosedur, hampir setiap orang di sekitar gw pernah punya niatan pendek bunuh diri dengan kabel telepon yang sedang dipakai menelepon customer service.
Customer service kan juga manusia, yip, demikian gw selalu berusaha ditenangkan, saat fantasi liar gw mulai menyusun aksi kejam pembunuhan berantai, boikot hingga terorisme terhadap kantor customer service.
“Ya terus kenapa kalau mereka manusia?” jawab gw dingin.
“Mereka punya perasaan, punya hati, gimana rasanya kalau lu yang dibentak-bentak kayak gitu? Jangan karena kemampuannya mungkin tak seefektif orang lain lu perlakukan secara tidak manusiawi”
“Justru karena mereka itu punya hati, punya OTAK! Mereka seharusnya memperlakukan pelanggan secara manusiawi!, memanusiakan manusia!!” gw balik ngebentak .
Maaf saja, gw memang ga pake kasihan dalam hal ini. Bagi gw, permasalahan utama pada para customer service bukan karena kurangnya kemampuan ataupun intelektualitas. Penyebab layanan buruk dari customer service nampaknya datang dari para pelaku call center sendiri yang tidak memandang tinggi profesinya.
coba kalo setiap customer service bisa memandang profesinya sebagai setaraf, sepenting dan sebesar profesi lain, mereka akan menerapkan nilai-nilai profesionalisme yang juga merupakan kunci sukses pekerjaan-pekerjaan lain.
“Kalau emang sama kayak kerjaan lain, lu aja yang jadi customer service kalau gitu!” sanggah seorang teaman. Sebuah saran yang bahkan sudah pernah gw terima dari customer service itu sendiri. Karena masih kontrak dengan pekerjaan saat ini, gw memutuskan tetap jadi customer saja.
Tapi demi menunjukkan bahwa masalah customer service itu ada pada masalah ada alasan untuk pelaku pekerjaan untuk menyepelekan, gw mendaftar penyebab buruknya layanan oknum call center yang berpangkal pada: oknum tidak mencintai pekerjaannya.
Kurangnya inisiatif
Cust Svc : Mas, karena ATM sedang gangguan, maka Mas harus membayar hari ini juga ke kantor Gramparan kalau ingin segera disambungkan lagi teleponnya.
Yipyip : Jadi kantor layanan Gramparan yang terdekat di kota Jambi di mana ya mbak?
Cust Svc : Di daerah pasar, Mas .
DUA JAM KEMUDIAN
Yipyip : MBAKKKK!!!! KANTOR YANG DI SIMPANG SADO tuh KALAU HARI MINGGU TUTUP!!!
Cust Svc : Iya, mas, cabang yang di pasar hanya buka Senin sampai Jumat jam 9 sampai jam 5
Yipyip : KOK MBAK NGGAK NGASI TAU SAYAAA…SAYA UDA CAPE-CAPE KE PASAR! MANA PANAS-PANAS GINI
Cust Svc : Mas kan cuma nanya kantor Gramparan terdekat di kota Jambi, Mas nggak nanya hari ini buka apa enggak…
Setau gw logika sehat ajalah...yang namanya karyawan yang ingin maju, bakal terus berpikir bagaimana caranya meningkatkan performa kerja, memberi usulan yang konstruktif bagi perusahaan dan mencari pemecahan terbaik bagi klien. Yang melaksanakan kerjaan secukupnya saja, yang tak bicara jika tak ditanya, niscaya bakal jauh dari promosi dan naik gaji.
Jelas terbaca di mana posisi call center yang seolah ‘cape ngomong’, tidak berusaha sepenuhnya memenuhi kebutuhan pelanggan. Mungkin dilatarbelakangi kebencian terhadap pekerjaan,ataupun rasa malas yang luar biasa, customer service tidak sepenuhnya mengharapkan kepuasan pelanggan yang harus bermacet-macetan ke Pasar di hari liburnya guna meluruskan kesalahan pencatatan telepon…
Tidak menjadi bagian dari perusahaan secara utuh
Cust Svc: Maaf Mas, kami tidak mengetahui mengapa Anda tidak bisa mengakses internet.
Yipyip : Lho? Kok gitu sih? Saya kan pasang internet di rumah supaya bisa kerja setiap saat diperlukan. Kalau saya dipecat siapa yang tanggung jawab? Speedol?
Cust Svc: Yang jelas bukan saya, mas, saya di sini cuma customer service.
Tentu saja, setiap ada kesalahan pada divisi lain, mana ada yg mau nanggung. biasanya kan Langsung salah-salahan dan angkat tangan. Tapi kan, sebagai satu perusahaan, dengan berat hati karyawannya akan langsung memikirkan bagaimana cara menanggulangi masalah ini dari divisi masing-masing.
OK lah, gw sangat paham bahwa bukan customer service bukan yang menyebabkan internet gw mati, atau kartu gw diblokir karena kesalahan pencatatan pembayaran. Tapi sebagai bagian dari customer service, sudah tugas mereka untuk menghubungkan gw pada pihak yang berwenang! Sayangnya sering kali ada perasaan palsu bahwa pekerjaan tersebut tidak berguna dan tidak membantu...
Berantem sama customer
Yipyip: Mbak, ini sudah kedua kalinya lho modem saya mati, dan dua-duanya nggak pernah mendapat perbaikan yang berarti, kalau begini caranya, saya berhenti langganan SPEDOL aja!
Cust Svc: Ya udah kalau gitu! Saya putus sekarang ya!
YipYip : HAAAAAh (takjub!!)
Pelanggan adalah raja, sudah begitu slogannya dan akan selalu begitu. Nggak akur dengan klien, konsumen, dan sejenisnya akan berakhir pemecatan dan gagalnya usaha. Namun sekali lagi, entah karena merasa tak punya andil dalam perusahaan, oknum customer service malah bisa lebih galak dari pelanggan, membentak dan ikut mengancam!
Melakukan kesalahan kerja lalu lempar tanggung jawab
Yipyip : Mas, saya mau pasang PIN di hp SEMEN saya, tapi tadi saya coba kok PIN error ya keluarnya?
Cust Svc: Ituuu… pakai feature di HP-nya dong, coba-coba masuk ke sini..terus ke sini..terus ke sini…
Yipyip : Iya, tadi juga saya ke situ, tapi nggak bisa
Cust Svc: Salah kali masukkinnya, coba lagi gih sekarang, ke sini, terus ke sini..terus ke sini…
Yipyip: *mencoba* tuuu kan mas! Nggak bisa lagi! Uda dua kali nih!
Cust Svc: Oh ya? Kok bisa ya, coba sekali lagi diulang, ke sini..terus ke sini..terus ke sini…
Yipyip : YAA!! KOK JADINYA KE-BLOKIR MAS!!!
Cust Svc: Waduh, saya nggak bisa bantu Mas, kalau kartu ke-blokir bukan tanggung jawab SEMEN….
Kalau kejadian ini adalah di tahun 2000. Rupanya kinerja customer service sudah jelek dari awal jaman reformasi. Inilah masa kartu SIM masih mahal-mahalnya. Dan gw kehilangan kartu SIM gw, dua hari setelah handphone dibeli karena kesotoyan customer service di PT SEMEN itu.
Buat salah di dunia kerja adalah wajar. Yang ga wajar adalah jika salah, lalu tidak mengaku salah. Karena bau ikan busuk akan tercium, maka tindakan ini akan dianggap sangat tidak terpuji dan layak dihukum berat. Saat-saat seperti ini, gw berharap ada layanan pengaduan khusus mengadukan customer service! Semacam Polisi MIliter untuk Tentara gitu ..semcam Internal affair untuk Police hahahaha..........
Bekerja cukup dengan membaca text-book saja
Cust Svc: Mas, setelah kami cek ternyata ada gangguan jaringan sehingga internet mati
Yipyip : Oh gitu, kelarnya kapan, mbak?
Cust Svc: Kami tidak bisa memprediksi, Mas
Yipyip : Kira-kira kalau gangguan seperti ini memangnya berapa lama mbak emangnya?
Cust Svc : Akan ada pemberitahuan lebih lanjut.
Yipyip : Iya, pemberitahuan lanjutnya itu kapan mbak…
Cust Svc : Ada pertanyaan Mas?
Yipyip : ITU TADI PERTANYAAN SAYA BELUM DIJAWAB!
Cust Svc : Baiklah kalau sudah jelas, terima kasih banyak telah menghubungi customer service kami dan jika ada pertanyaan silakan menghubungi kami kembali.
Yipyip : PERTANYAAN SAYA TADII….
Kadang yang gw rasain, customer service cuma sekadar membaca dari lembar ‘tata cara berhadapan dengan konsumen’. Mereka tidak sungguh-sungguh menyimak keluhan. Bagi gw, ini menunjukkan customer service yang melihat pekerjaannya sekadar sebagai pekerjaan, bukan karir, bukan profesi yang harus dijalankan dengan sepenuh hati, cukup dengan kemampuan mekanis robotik: membaca.
‘tulisan tak layak posting ’ ini bukan dimaksudkan untuk menghunus para customer service dengan pedang panjang. Tidak semua customer service punya pelayanan buruk. Lagipula, bagaimanapun juga, gw memahami beratnya harus berhadapan dengan manusia bertemperamen berang-berang seperti gw.
Tapi jadi tukang sampah juga berat, harus berhadapan dengan sampah yang membuat orang bertemperamen berang-berang. Jadi wartawan kriminal juga berat, harus berhadapan dengan para penjahat yang bertemperamen berang-berang. jadi tukang umbul-umbul pun berat... panas , keujanan.....
Maksud gw di sini, hampir semua pekerjaan punya tantangan yang berarti, dan hampir semua pekerjaan akan memaksa kita bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan. Bahkan pekerja kantoran pun berisiko punya bos dari neraka,yg mana gw dah pernah ngalamin hehehe... setiap hari setiap menit setiap detik meladeni temperamen berang-berangnya.
But it’s not an adequate reason not to do a job well. Karena setiap pekerjaan, sekecil apapun, serendah apapun gajinya, jika dijalankan dengan hati dan berusaha dicintai, akan menjadi pekerjaan yang sangat baik dan sangat penting.
Sebaliknya, pekerjaan apapun yang dilakukan dengan mentalisme kayak call center, bakal berakhir dengan pemecatan. Setiap karyawan diharapkan belajar dari pengalaman kerjanya, bukan dari sekadar membaca lembar training. Bisa meledak satu laboratorium jika ilmuwannya terlalu persis-sis mengkuti teori buku kimia SMA yang dah ga masuk kurikullum.....
Demikian juga, mereka yang tidak bertanggung jawab, nggak mau ngedukung usaha perusahaan, atau menjalankan tugas lurus-lurus tanpa inisiatif, bakal jauh dari kata promosi, apalagi naik gaji. Apalagi yang suka berantem sama konsumen!
Wis ah… Internet gw melambat, seperti biasanya … dang gw tetap ga tertarik buat nelepon call centre …bahhhh!!
anjrot besok dah senen lagi...
Sebenenernya bukannya gw nggak mau mnegakui, gw cukup ber empati kok ama diia, jawaban2 penuh simpati juga dah gw keluarin, karena ya gimana , gw sendiri emang sebisa mungkin berusaha UNTUK TIDAK menghabiskan waktu dengan urusan call centre...dari pada ke call centre gw lebih milih nelepon temen atau kolega yang emang kerja diperusahaan dimana sebenernya, pelayanan yang gw butuhin harusnya datang dari call centre... untung nya gw masih beruntung punya banya teman dan para kolega itu (Thx Don Bugs hahaha). karena emang mau ga mau sangat gw akui berbicara dengan customer service memang bisa menguras emosi yah semacam lagi ngomong ama pacar yang selingkuh... isinya ngeles,ga mau di salahin.
Pada pemikiran yang lebih luas, gw yakin Siapapun yang tinggal di Indonesia dan pernah menikmati jasa layanan Call centre apapun juga di Indonesia, dan terus tidak pernah kepingin punya kekuatan transfer energi untuk melesat melintasi jaringan telepon dan keluar dari gagang telepon mbak/mas call center lalu menggetok kepalanya dengan gagang telepon tersebut boleh menyebut dirinya beruntung!.
Dengan karakteristik nyata dari call centre made in Indonesia yang ber typical, jawaban yang tidak menjawab, pelayanan yang setengah-setengah, serta penuh prosedur, hampir setiap orang di sekitar gw pernah punya niatan pendek bunuh diri dengan kabel telepon yang sedang dipakai menelepon customer service.
Customer service kan juga manusia, yip, demikian gw selalu berusaha ditenangkan, saat fantasi liar gw mulai menyusun aksi kejam pembunuhan berantai, boikot hingga terorisme terhadap kantor customer service.
“Ya terus kenapa kalau mereka manusia?” jawab gw dingin.
“Mereka punya perasaan, punya hati, gimana rasanya kalau lu yang dibentak-bentak kayak gitu? Jangan karena kemampuannya mungkin tak seefektif orang lain lu perlakukan secara tidak manusiawi”
“Justru karena mereka itu punya hati, punya OTAK! Mereka seharusnya memperlakukan pelanggan secara manusiawi!, memanusiakan manusia!!” gw balik ngebentak .
Maaf saja, gw memang ga pake kasihan dalam hal ini. Bagi gw, permasalahan utama pada para customer service bukan karena kurangnya kemampuan ataupun intelektualitas. Penyebab layanan buruk dari customer service nampaknya datang dari para pelaku call center sendiri yang tidak memandang tinggi profesinya.
coba kalo setiap customer service bisa memandang profesinya sebagai setaraf, sepenting dan sebesar profesi lain, mereka akan menerapkan nilai-nilai profesionalisme yang juga merupakan kunci sukses pekerjaan-pekerjaan lain.
“Kalau emang sama kayak kerjaan lain, lu aja yang jadi customer service kalau gitu!” sanggah seorang teaman. Sebuah saran yang bahkan sudah pernah gw terima dari customer service itu sendiri. Karena masih kontrak dengan pekerjaan saat ini, gw memutuskan tetap jadi customer saja.
Tapi demi menunjukkan bahwa masalah customer service itu ada pada masalah ada alasan untuk pelaku pekerjaan untuk menyepelekan, gw mendaftar penyebab buruknya layanan oknum call center yang berpangkal pada: oknum tidak mencintai pekerjaannya.
Kurangnya inisiatif
Cust Svc : Mas, karena ATM sedang gangguan, maka Mas harus membayar hari ini juga ke kantor Gramparan kalau ingin segera disambungkan lagi teleponnya.
Yipyip : Jadi kantor layanan Gramparan yang terdekat di kota Jambi di mana ya mbak?
Cust Svc : Di daerah pasar, Mas .
DUA JAM KEMUDIAN
Yipyip : MBAKKKK!!!! KANTOR YANG DI SIMPANG SADO tuh KALAU HARI MINGGU TUTUP!!!
Cust Svc : Iya, mas, cabang yang di pasar hanya buka Senin sampai Jumat jam 9 sampai jam 5
Yipyip : KOK MBAK NGGAK NGASI TAU SAYAAA…SAYA UDA CAPE-CAPE KE PASAR! MANA PANAS-PANAS GINI
Cust Svc : Mas kan cuma nanya kantor Gramparan terdekat di kota Jambi, Mas nggak nanya hari ini buka apa enggak…
Setau gw logika sehat ajalah...yang namanya karyawan yang ingin maju, bakal terus berpikir bagaimana caranya meningkatkan performa kerja, memberi usulan yang konstruktif bagi perusahaan dan mencari pemecahan terbaik bagi klien. Yang melaksanakan kerjaan secukupnya saja, yang tak bicara jika tak ditanya, niscaya bakal jauh dari promosi dan naik gaji.
Jelas terbaca di mana posisi call center yang seolah ‘cape ngomong’, tidak berusaha sepenuhnya memenuhi kebutuhan pelanggan. Mungkin dilatarbelakangi kebencian terhadap pekerjaan,ataupun rasa malas yang luar biasa, customer service tidak sepenuhnya mengharapkan kepuasan pelanggan yang harus bermacet-macetan ke Pasar di hari liburnya guna meluruskan kesalahan pencatatan telepon…
Tidak menjadi bagian dari perusahaan secara utuh
Cust Svc: Maaf Mas, kami tidak mengetahui mengapa Anda tidak bisa mengakses internet.
Yipyip : Lho? Kok gitu sih? Saya kan pasang internet di rumah supaya bisa kerja setiap saat diperlukan. Kalau saya dipecat siapa yang tanggung jawab? Speedol?
Cust Svc: Yang jelas bukan saya, mas, saya di sini cuma customer service.
Tentu saja, setiap ada kesalahan pada divisi lain, mana ada yg mau nanggung. biasanya kan Langsung salah-salahan dan angkat tangan. Tapi kan, sebagai satu perusahaan, dengan berat hati karyawannya akan langsung memikirkan bagaimana cara menanggulangi masalah ini dari divisi masing-masing.
OK lah, gw sangat paham bahwa bukan customer service bukan yang menyebabkan internet gw mati, atau kartu gw diblokir karena kesalahan pencatatan pembayaran. Tapi sebagai bagian dari customer service, sudah tugas mereka untuk menghubungkan gw pada pihak yang berwenang! Sayangnya sering kali ada perasaan palsu bahwa pekerjaan tersebut tidak berguna dan tidak membantu...
Berantem sama customer
Yipyip: Mbak, ini sudah kedua kalinya lho modem saya mati, dan dua-duanya nggak pernah mendapat perbaikan yang berarti, kalau begini caranya, saya berhenti langganan SPEDOL aja!
Cust Svc: Ya udah kalau gitu! Saya putus sekarang ya!
YipYip : HAAAAAh (takjub!!)
Pelanggan adalah raja, sudah begitu slogannya dan akan selalu begitu. Nggak akur dengan klien, konsumen, dan sejenisnya akan berakhir pemecatan dan gagalnya usaha. Namun sekali lagi, entah karena merasa tak punya andil dalam perusahaan, oknum customer service malah bisa lebih galak dari pelanggan, membentak dan ikut mengancam!
Melakukan kesalahan kerja lalu lempar tanggung jawab
Yipyip : Mas, saya mau pasang PIN di hp SEMEN saya, tapi tadi saya coba kok PIN error ya keluarnya?
Cust Svc: Ituuu… pakai feature di HP-nya dong, coba-coba masuk ke sini..terus ke sini..terus ke sini…
Yipyip : Iya, tadi juga saya ke situ, tapi nggak bisa
Cust Svc: Salah kali masukkinnya, coba lagi gih sekarang, ke sini, terus ke sini..terus ke sini…
Yipyip: *mencoba* tuuu kan mas! Nggak bisa lagi! Uda dua kali nih!
Cust Svc: Oh ya? Kok bisa ya, coba sekali lagi diulang, ke sini..terus ke sini..terus ke sini…
Yipyip : YAA!! KOK JADINYA KE-BLOKIR MAS!!!
Cust Svc: Waduh, saya nggak bisa bantu Mas, kalau kartu ke-blokir bukan tanggung jawab SEMEN….
Kalau kejadian ini adalah di tahun 2000. Rupanya kinerja customer service sudah jelek dari awal jaman reformasi. Inilah masa kartu SIM masih mahal-mahalnya. Dan gw kehilangan kartu SIM gw, dua hari setelah handphone dibeli karena kesotoyan customer service di PT SEMEN itu.
Buat salah di dunia kerja adalah wajar. Yang ga wajar adalah jika salah, lalu tidak mengaku salah. Karena bau ikan busuk akan tercium, maka tindakan ini akan dianggap sangat tidak terpuji dan layak dihukum berat. Saat-saat seperti ini, gw berharap ada layanan pengaduan khusus mengadukan customer service! Semacam Polisi MIliter untuk Tentara gitu ..semcam Internal affair untuk Police hahahaha..........
Bekerja cukup dengan membaca text-book saja
Cust Svc: Mas, setelah kami cek ternyata ada gangguan jaringan sehingga internet mati
Yipyip : Oh gitu, kelarnya kapan, mbak?
Cust Svc: Kami tidak bisa memprediksi, Mas
Yipyip : Kira-kira kalau gangguan seperti ini memangnya berapa lama mbak emangnya?
Cust Svc : Akan ada pemberitahuan lebih lanjut.
Yipyip : Iya, pemberitahuan lanjutnya itu kapan mbak…
Cust Svc : Ada pertanyaan Mas?
Yipyip : ITU TADI PERTANYAAN SAYA BELUM DIJAWAB!
Cust Svc : Baiklah kalau sudah jelas, terima kasih banyak telah menghubungi customer service kami dan jika ada pertanyaan silakan menghubungi kami kembali.
Yipyip : PERTANYAAN SAYA TADII….
Kadang yang gw rasain, customer service cuma sekadar membaca dari lembar ‘tata cara berhadapan dengan konsumen’. Mereka tidak sungguh-sungguh menyimak keluhan. Bagi gw, ini menunjukkan customer service yang melihat pekerjaannya sekadar sebagai pekerjaan, bukan karir, bukan profesi yang harus dijalankan dengan sepenuh hati, cukup dengan kemampuan mekanis robotik: membaca.
‘tulisan tak layak posting ’ ini bukan dimaksudkan untuk menghunus para customer service dengan pedang panjang. Tidak semua customer service punya pelayanan buruk. Lagipula, bagaimanapun juga, gw memahami beratnya harus berhadapan dengan manusia bertemperamen berang-berang seperti gw.
Tapi jadi tukang sampah juga berat, harus berhadapan dengan sampah yang membuat orang bertemperamen berang-berang. Jadi wartawan kriminal juga berat, harus berhadapan dengan para penjahat yang bertemperamen berang-berang. jadi tukang umbul-umbul pun berat... panas , keujanan.....
Maksud gw di sini, hampir semua pekerjaan punya tantangan yang berarti, dan hampir semua pekerjaan akan memaksa kita bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan. Bahkan pekerja kantoran pun berisiko punya bos dari neraka,yg mana gw dah pernah ngalamin hehehe... setiap hari setiap menit setiap detik meladeni temperamen berang-berangnya.
But it’s not an adequate reason not to do a job well. Karena setiap pekerjaan, sekecil apapun, serendah apapun gajinya, jika dijalankan dengan hati dan berusaha dicintai, akan menjadi pekerjaan yang sangat baik dan sangat penting.
Sebaliknya, pekerjaan apapun yang dilakukan dengan mentalisme kayak call center, bakal berakhir dengan pemecatan. Setiap karyawan diharapkan belajar dari pengalaman kerjanya, bukan dari sekadar membaca lembar training. Bisa meledak satu laboratorium jika ilmuwannya terlalu persis-sis mengkuti teori buku kimia SMA yang dah ga masuk kurikullum.....
Demikian juga, mereka yang tidak bertanggung jawab, nggak mau ngedukung usaha perusahaan, atau menjalankan tugas lurus-lurus tanpa inisiatif, bakal jauh dari kata promosi, apalagi naik gaji. Apalagi yang suka berantem sama konsumen!
Wis ah… Internet gw melambat, seperti biasanya … dang gw tetap ga tertarik buat nelepon call centre …bahhhh!!
anjrot besok dah senen lagi...


Komentar