Munajat Cinta para Buaya

Bandung 2013... D-Day. Batas akhir dead line telah terlewati........... Sebuah Warteg. hari ini lumayan ramai...itu beberapa jam yang lalu sekarang,yang tersisa Hanyalah beberapa makanan yang mungkin sudah tidak terlalu enak untuk dinikmati di waktu yang hampir tengah malam ini. Warteg ini Pemiliknya adalah pasangan suami isteri dari daerah panas bernama Indramayu,. Orang-orang manggil mereka pak mul ama bu mul. Pasangan yang selalu tersenyum menghadapi setiap pelanggan, tak perduli mereka bisa bayar uang sekolah tujuh anak mereka atau tidak di kampung. Tapi bukan tentang mereka yang menjadi bahan obrolan hangat malam itu. Tapi tentang dua mahasiswa yang duduk di sudut bangku panjang, dekat tong sampah buluk posisi kegemaran mereka. malam itu, mereka punya topik hangat untuk diceritakan pada pak mul dan buk mul. "Tapi tahunya gratis loh bu" kilah Ray saat pak mul menyemangati menyuruhnya bercerita. "Aku es teh aja, plus super satu," Jay menimpali sambil mengambil rokok kretek berbungkus merah dari rak rokok di warteg itu. Pak mul dan buk mul mendelik, lalu nyaris berbarengan mereka mengumpat. "Anak-anak bandel! Makan sepuasnya deh, pokokee kalian harus cerita." Ah? Sebegitu penasarankah mereka? Tentu saja. Ray dan Jay, dua makhluk unik itu, paling pinter kalo di suruh ngedongeng. Kalau mereka sudah bercerita, yang pasti para pelanggan malam, itu sebutan untuk anak2 kost yg baru nongol ketika pas warteg itu sudah mau tutup.bisa betah untuk berlama-lama di warteg itu. bisa-bisa sampai pagi tetap ramai. Ray mengambil tiga potong tahu, mengambil sikap hendak bercerita. Dua orang tukang ojeg dan satu supir taksi masuk dan mengambil tempat... siap mendengarkan bualan surga,atau mungkin hanya munajat cinta buaya biasa ;) to be continue

Komentar

Postingan Populer