Basket ke singapurrr
yip A minggu ini ke Singapur, pengen ke Universal Studio.”
“Ihh…ngapain? Emang si A masih bisa main jetcoster?”
“Nemenin keponakan temen nya yg sd, ada karyawisata dia di ajakin ama om nya gitu.”
“Karyawisata anak sd ke Universal Studio? anjirrrr”
“Iya, Keponakan temen nnya kan sekolah di sekolah internasional yang daerah dago itu loh, jadi karyawisatanya ke Singapur.”
“Haa…Jauh amat! Kalau nggak mampu gimana?”
“Ya pasti mampu, lah! Sekolah internasional, mahal! Muridnya mampu semua!”
Gw manggut-manggut sambil Ngedrible and nge shoot ke arah ring basket ….
Si A yang di omongin baru datang, untuk sementara sepertinya percakapan terhenti.
permainan pagi itu dimulai... berkeringat dan sehat :D
Beberapa saat kemudian, setelah permainan selesai anak anak cewek di lapangan ini
masih pada ngobrolin soal salah satu teman yang bakal ke singapur tadi,
ada yang sok pengen mesen barang, ada juga yang jadi nanya nanya soal passport, visa dll.
Asalnya sih yang anak anak cowok ngegerombol di pinggir lapangan dan asik ngomongin
liga champion semalem.
tapi akhirnya rembetan urusan study tour sd ke singapur ini pun ngerembet ke rombongan anak anak cowok.
Dan akhirnya gw pun kebawa-bawa mulai bertingkah seperti emak-emak
yang merasa lahir pada jaman penjajahan Jepang sehingga sangat sengsara,
waktu gw masih kecil nggak ada tuh yang namanya,
KARYAWISATA KE SINGAPURA…
Ya! Ya! Gw tahu! Gw paham! Jaman memang sudah berubah.
Sulit untuk membandingkan masa kecil gw dengan milik keponakan temen gw itu.
Perkembangan peradaban telah membawa kehidupan yang lebih baik bagi anak kecil di sebagian besar pelosok dunia….
Yah jaman sd , gw belum pegang bb lah, handphone ajah dapet baru jaman SMA,
yah waktu kecil dulu mana adalah gw kemana mana bawa tablet and ngegame dimana mana…
bisa ikutan maen sega di tetangga ajah dah syukur..
Keki kan kalau pembandingnya kayak gitu? Namanya juga jamannya beda. Sekalian aja dibandingkan bahwa di jaman revolusi industri. Anak-anak seusia keponakantemen temen gw sudah harus bekerja di pemintalan benang dari pagi hingga malam dengan kehilangan hak bermainnya!
Gw menerima dengan ridho bahwa kelak, anak cucu gw akan hidup lebih sejahtera,
dengan barang-barang berkualitas lebih baik, pendidikan yang lebih cenggih
serta baju-baju yang lebih lucu. Sungguh! Tulus iklhas! Nggak ngiri! TAPIII… terkadang,
hanya terkadang, ada beberapa hal yang membuat gw gelisah,
kepikiran bahwa segala fasilitas dan modernisasi itu,
malah menghilangkan esensi nilai dari hal yang sebenarnya mau dituju dari pembentukan seorang anak.
Karyawisata, misalnya. Namanya juga KARYA-WISATA.
Kegiatan jalan-jalan yang menghasilkan karya. Atau STUDI-WISATA.
Kegiatan wisata sambil belajar. Makanya, dulu sekalipun, dengan karyawisata
lokal-regional yang tidak bisa dibandingkan dengan Singapura dan Universal,
gw diajak ke TMII, bukan ke Dufan.
Belajar apa temen keponakan temen gw itu di Universal Studio selain belajar
mengatasi rasa takut naik roller coaster?
Salah satu hal yang juga baru gw sadari setelah gw besar adalah karyawisata
mengajarkan anak-anak TK dan SD itu untuk menjadi mandiri dan bisa mengakses
lingkungannya Bepergian di luar lingkup sekolah,
bersama dengan kawan-kawan saja,
dengan sedikit pengawasan guru, membawa gw melangkah ke dunia lain tanpa adanya
lindungan orang tua.
Karyawisata terlalu jauh, apalagi ke Singapura, malah mengundang seluruh orang tua dan handai taulan untuk ikut mengantar, lalu mengawasi anak-anaknya dari jarak 5 meter sambil menyeruput Fanta lima dolar dalam botol Shrek di toko cendera mata.
Dan bayangkan betapa kuatnya nilai borjuisme yang ditanamkan dengan karyawisata
ke Singapura saat teman SD Inpresnya pergi ke Ragunan ngeliatin nyemot doang.
Tentu saja, borjuisme bisa muncul dari mana saja.
Nggak karyawisatapun, gw sudah selalu dibuat iri sejak kecil
dengan foto-foto teman-teman berlatar menara Eiffel saat liburan,
saat gw baru bisa berfoto dengan latar demikian setelah bekerja.
Atau dengan oleh-oleh telor burung onta saat gw cuma bisa memberi gantungan kunci.
Tapi setidaknya itu terjadi saat liburan, di mana memang tujuan kegiatannya adalah bersenang-senang, bukan saat sekolah. Bukan saat di mana sekolah bertanggung jawab terhadap pertumbuhan anak muridnya. Bukan saat…karyawisata….
Gw juga tidak tahu, kelebihan apa yang didapat dengan pergi ke planetarium dan ke Keong Mas yang filmnya membosankan. Mungkin di mata anak SD, semua itu hanya rekreasi setelah setahun belajar. Mungkin memang tidak ada nilai yang bisa menempel. Atau kalaupun ada, mungkin nilai itu tidak ada gunanya. Apakah menghafal naskah proklamasi di tugu proklamasi itu punya kontribusi terhadap bagaimana seseorang bersikap di masa depan? Mungkin tidak.
Kalau memang hanya nilai rekreasi, mungkin tamasya ke Universal Studio akan lebih berguna daripada ke Keong Mas yang sungguh membosankan. Namun seiring dengan bertambahnya usia para sekolah internasional, gw semakin sering mendengar cerita anak-anak Indonesia yang mengaku tidak tahu matoa itu apa, atau bertanya bagaimana bentuk Lubang Buaya. Dan mendengarnya, gw kasihan.
Sama seperti rasa kasihan yang gw rasakan saat mendengar bahwa banyak sekali anak kuliahan saat ini yang tidak hafal Pancasila, apalagi lambangnya. Bukan karena Pancasila itu penting, apalagi jika itu menentukan bagaimana manusia endonesia ini bersikap. Tapi karena it tells so much about being a person with knowledge, living in one country.
Kasihan karena di usia yang sudah dewasa, ada banyak sekali hal yang tidak pernah dilihat dan diketahui dari Negara dan kota yang ditinggalinya itu. Kasihan, karena seberapa tidak pentingnya, itu menandakan mereka punya pengetahuan umum yang lebih sedikit dibandingkan orang lain. Suatu hari akan ada yang bertanya apa saja jenis ikan dalam air tawar Indonesia dan mereka tidak akan bisa menjawab, senembak-nembaknya.
Dan itu terjadi bukan karena mereka tidak mendapatkan pendidikan dan kesempatan yang cukup.
Sesaat gw bersyukur pernah melihat Jakarta dari ketinggian Monas meski tidak lebih kece daripada melihatnya dari Menara Imperium hihihi. Gw bersyukur pernah dibawa melihat kursi lapis emas di Museum Gajah, meski sampai di usia yang cukup meradang ini, tidak pernah tahu bentuknya Merlion.
Gw jadi manusia berpengetahuan,
yah seperti seharusnya karyawisata membuat gw, di usia tujuh tahun itu.
Sekali lagi, sungguh, gw tidak mencela kemewahan yang dinikmati anak-anak yang lahir di atas tahun 2000 itu.
Kalau memang harus karyawisata ke luar negeri, ya mbok coba tapi ke Asian Civilization Museum, misalnya,
gw mungkin masih lebih mengerti esensinya, rada jelas kan.
Meski tetep aja hahaha, ngapain jauh-jauh ke Singapur nyari museum? Tuh Museum Gajah aja juga banyak isinya!...sentosa ajah langsung jep ajep (duitttt nenek lu apah! hahaha)
ok Jika sesuai dengan esensinya, gw mungkin hanya berdecak iri tanpa mampu protes.
Bukan salah mereka kalau keponakan temen temen gw bisa bermain profesi orang dewasa dengan properti lengkap dan riil dalam kenyamanan sebuah mall.
Sedangkan, profesi orang dewasa yang bisa gw bayangkan terbatas pada menjadi ibu rumah tangga dan koki, lewat permainan masak-masakan.
Atau jadi atlet dan pembalap lewat permainan lari-larian dan mobil-mobilan.
Serta dokter-dokteran, lalu setelah lebih gede, bisa jadi suster-susteran dengan properti yang lebih lengkap seperti baju putih mini dan kacamata bingkai merah. *lho kok jadi kinky?
Tetapi setelah gw pikir-pikir lagi, mungkin ada tujuan mulia dibalik tamasya Singapura ini. Mungkin dengan dibawa jalan-jalan, keponakantemen gw itu jadi terinspirasi mau sekolah di sana.
Tunggu saja sampai nyaho nyesel-nyesel pengen pulang!
“Ihh…ngapain? Emang si A masih bisa main jetcoster?”
“Nemenin keponakan temen nya yg sd, ada karyawisata dia di ajakin ama om nya gitu.”
“Karyawisata anak sd ke Universal Studio? anjirrrr”
“Iya, Keponakan temen nnya kan sekolah di sekolah internasional yang daerah dago itu loh, jadi karyawisatanya ke Singapur.”
“Haa…Jauh amat! Kalau nggak mampu gimana?”
“Ya pasti mampu, lah! Sekolah internasional, mahal! Muridnya mampu semua!”
Gw manggut-manggut sambil Ngedrible and nge shoot ke arah ring basket ….
Si A yang di omongin baru datang, untuk sementara sepertinya percakapan terhenti.
permainan pagi itu dimulai... berkeringat dan sehat :D
Beberapa saat kemudian, setelah permainan selesai anak anak cewek di lapangan ini
masih pada ngobrolin soal salah satu teman yang bakal ke singapur tadi,
ada yang sok pengen mesen barang, ada juga yang jadi nanya nanya soal passport, visa dll.
Asalnya sih yang anak anak cowok ngegerombol di pinggir lapangan dan asik ngomongin
liga champion semalem.
tapi akhirnya rembetan urusan study tour sd ke singapur ini pun ngerembet ke rombongan anak anak cowok.
Dan akhirnya gw pun kebawa-bawa mulai bertingkah seperti emak-emak
yang merasa lahir pada jaman penjajahan Jepang sehingga sangat sengsara,
waktu gw masih kecil nggak ada tuh yang namanya,
KARYAWISATA KE SINGAPURA…
Ya! Ya! Gw tahu! Gw paham! Jaman memang sudah berubah.
Sulit untuk membandingkan masa kecil gw dengan milik keponakan temen gw itu.
Perkembangan peradaban telah membawa kehidupan yang lebih baik bagi anak kecil di sebagian besar pelosok dunia….
Yah jaman sd , gw belum pegang bb lah, handphone ajah dapet baru jaman SMA,
yah waktu kecil dulu mana adalah gw kemana mana bawa tablet and ngegame dimana mana…
bisa ikutan maen sega di tetangga ajah dah syukur..
Keki kan kalau pembandingnya kayak gitu? Namanya juga jamannya beda. Sekalian aja dibandingkan bahwa di jaman revolusi industri. Anak-anak seusia keponakantemen temen gw sudah harus bekerja di pemintalan benang dari pagi hingga malam dengan kehilangan hak bermainnya!
Gw menerima dengan ridho bahwa kelak, anak cucu gw akan hidup lebih sejahtera,
dengan barang-barang berkualitas lebih baik, pendidikan yang lebih cenggih
serta baju-baju yang lebih lucu. Sungguh! Tulus iklhas! Nggak ngiri! TAPIII… terkadang,
hanya terkadang, ada beberapa hal yang membuat gw gelisah,
kepikiran bahwa segala fasilitas dan modernisasi itu,
malah menghilangkan esensi nilai dari hal yang sebenarnya mau dituju dari pembentukan seorang anak.
Karyawisata, misalnya. Namanya juga KARYA-WISATA.
Kegiatan jalan-jalan yang menghasilkan karya. Atau STUDI-WISATA.
Kegiatan wisata sambil belajar. Makanya, dulu sekalipun, dengan karyawisata
lokal-regional yang tidak bisa dibandingkan dengan Singapura dan Universal,
gw diajak ke TMII, bukan ke Dufan.
Belajar apa temen keponakan temen gw itu di Universal Studio selain belajar
mengatasi rasa takut naik roller coaster?
Salah satu hal yang juga baru gw sadari setelah gw besar adalah karyawisata
mengajarkan anak-anak TK dan SD itu untuk menjadi mandiri dan bisa mengakses
lingkungannya Bepergian di luar lingkup sekolah,
bersama dengan kawan-kawan saja,
dengan sedikit pengawasan guru, membawa gw melangkah ke dunia lain tanpa adanya
lindungan orang tua.
Karyawisata terlalu jauh, apalagi ke Singapura, malah mengundang seluruh orang tua dan handai taulan untuk ikut mengantar, lalu mengawasi anak-anaknya dari jarak 5 meter sambil menyeruput Fanta lima dolar dalam botol Shrek di toko cendera mata.
Dan bayangkan betapa kuatnya nilai borjuisme yang ditanamkan dengan karyawisata
ke Singapura saat teman SD Inpresnya pergi ke Ragunan ngeliatin nyemot doang.
Tentu saja, borjuisme bisa muncul dari mana saja.
Nggak karyawisatapun, gw sudah selalu dibuat iri sejak kecil
dengan foto-foto teman-teman berlatar menara Eiffel saat liburan,
saat gw baru bisa berfoto dengan latar demikian setelah bekerja.
Atau dengan oleh-oleh telor burung onta saat gw cuma bisa memberi gantungan kunci.
Tapi setidaknya itu terjadi saat liburan, di mana memang tujuan kegiatannya adalah bersenang-senang, bukan saat sekolah. Bukan saat di mana sekolah bertanggung jawab terhadap pertumbuhan anak muridnya. Bukan saat…karyawisata….
Gw juga tidak tahu, kelebihan apa yang didapat dengan pergi ke planetarium dan ke Keong Mas yang filmnya membosankan. Mungkin di mata anak SD, semua itu hanya rekreasi setelah setahun belajar. Mungkin memang tidak ada nilai yang bisa menempel. Atau kalaupun ada, mungkin nilai itu tidak ada gunanya. Apakah menghafal naskah proklamasi di tugu proklamasi itu punya kontribusi terhadap bagaimana seseorang bersikap di masa depan? Mungkin tidak.
Kalau memang hanya nilai rekreasi, mungkin tamasya ke Universal Studio akan lebih berguna daripada ke Keong Mas yang sungguh membosankan. Namun seiring dengan bertambahnya usia para sekolah internasional, gw semakin sering mendengar cerita anak-anak Indonesia yang mengaku tidak tahu matoa itu apa, atau bertanya bagaimana bentuk Lubang Buaya. Dan mendengarnya, gw kasihan.
Sama seperti rasa kasihan yang gw rasakan saat mendengar bahwa banyak sekali anak kuliahan saat ini yang tidak hafal Pancasila, apalagi lambangnya. Bukan karena Pancasila itu penting, apalagi jika itu menentukan bagaimana manusia endonesia ini bersikap. Tapi karena it tells so much about being a person with knowledge, living in one country.
Kasihan karena di usia yang sudah dewasa, ada banyak sekali hal yang tidak pernah dilihat dan diketahui dari Negara dan kota yang ditinggalinya itu. Kasihan, karena seberapa tidak pentingnya, itu menandakan mereka punya pengetahuan umum yang lebih sedikit dibandingkan orang lain. Suatu hari akan ada yang bertanya apa saja jenis ikan dalam air tawar Indonesia dan mereka tidak akan bisa menjawab, senembak-nembaknya.
Dan itu terjadi bukan karena mereka tidak mendapatkan pendidikan dan kesempatan yang cukup.
Sesaat gw bersyukur pernah melihat Jakarta dari ketinggian Monas meski tidak lebih kece daripada melihatnya dari Menara Imperium hihihi. Gw bersyukur pernah dibawa melihat kursi lapis emas di Museum Gajah, meski sampai di usia yang cukup meradang ini, tidak pernah tahu bentuknya Merlion.
Gw jadi manusia berpengetahuan,
yah seperti seharusnya karyawisata membuat gw, di usia tujuh tahun itu.
Sekali lagi, sungguh, gw tidak mencela kemewahan yang dinikmati anak-anak yang lahir di atas tahun 2000 itu.
Kalau memang harus karyawisata ke luar negeri, ya mbok coba tapi ke Asian Civilization Museum, misalnya,
gw mungkin masih lebih mengerti esensinya, rada jelas kan.
Meski tetep aja hahaha, ngapain jauh-jauh ke Singapur nyari museum? Tuh Museum Gajah aja juga banyak isinya!...sentosa ajah langsung jep ajep (duitttt nenek lu apah! hahaha)
ok Jika sesuai dengan esensinya, gw mungkin hanya berdecak iri tanpa mampu protes.
Bukan salah mereka kalau keponakan temen temen gw bisa bermain profesi orang dewasa dengan properti lengkap dan riil dalam kenyamanan sebuah mall.
Sedangkan, profesi orang dewasa yang bisa gw bayangkan terbatas pada menjadi ibu rumah tangga dan koki, lewat permainan masak-masakan.
Atau jadi atlet dan pembalap lewat permainan lari-larian dan mobil-mobilan.
Serta dokter-dokteran, lalu setelah lebih gede, bisa jadi suster-susteran dengan properti yang lebih lengkap seperti baju putih mini dan kacamata bingkai merah. *lho kok jadi kinky?
Tetapi setelah gw pikir-pikir lagi, mungkin ada tujuan mulia dibalik tamasya Singapura ini. Mungkin dengan dibawa jalan-jalan, keponakantemen gw itu jadi terinspirasi mau sekolah di sana.
Tunggu saja sampai nyaho nyesel-nyesel pengen pulang!


Komentar